aku mendengar suaramu. di sela-sela riuh-riuh tak bertema. suaramu itu menyusup ke telingaku. secepat angin badai sore-sore waktu kamu menangis karena tak bisa bertemu seseorang yang dari tadi sudah kau tunggu. dan secepat itu juga perginya. sampai tak bisa aku mencari, walau sudah berlari. harusnya aku tungkupkan tangan di kedua telingaku agar suaramu terkurung di kepalaku. dan kunikmati rasa suaramu itu. rasanya tak enak benar, tapi kunikmati dengan sungguh. kau mungkin tahu rasanya. seperti makanan biasa yang dimakan saat sangat lapar. rasanya tambah enak beberapa tingkat.
nanti ini jadi naskah.