sejak berumur
sebelas.
mereka tersenyum puas melihat sy bebas.
banyak berkurang beban mereka.
pagi itu dingin, pertanda
siang akan panas.
setelah mencium kedua pipi ibu, sy mencium tangan bapak.
lalu pergi bergegas.
mereka melihat dari depan pintu.
membiarkan sy membuka
pagar dan menutupnya lagi setelah berada di luar.
sy, dengan sepatu, celana
jins pendek yang agak longgar, dan kaus-kemeja yang terbungkus baju hangat,
mulai berjalan.
di punggung, sy harus menggendong tas.
berat badan sy tak jauh beda
dengannya.
sy namakan dia dengan nama pemberian ibu.
dengannya sy berbagi
nama.
“rao” untuknya.
“tahite” masih dengan sy.
rao tahite, iya. itu nama diberi
ibu sy.
yang diberi bapak, sy agak lupa.
kalau tak salah, agak terdengar seperti
kata-kata bahasa arab.
rasanya, sampai terakhir bertemu, dia masih berharap nama
itu yang tersemat.
rao, tas itu, berisi dua pasang pakaian dalam, dua kaus, dua
celana pendek, dan sebuah plastik-jas.
kata ibu, kalau hujan datang menderas,
pakailah lekas.
dan sekarung kecil yang berisi setengah kilo beras.
(itu
sy simpan sampai berkutu.
sampai kutu-kutu itu gemuk dan tidur-tiduran nyaman di
atas baju-baju bersih sy yang hangat).
ibu sy tak perlu tahu sy akan bisa
memasak atau tidak.
bapak juga begitu.
bahkan ia tidak sempat memikirkannya.
kapan-kapan sy lanjutkan.
sudah tidak terlalu kuat.
jangan pernah biarkan anakmu pamit begitu saja dari rumah.
biarlah dia merasa diharapkan, ketika dilarang-larang.
atau dimohon-mohon untuk bertahan, tetap tinggal..
atau setidaknya berilah air mata ketika dia pergi.
setidaknya itu akan meluluhkan hati.
atau itu yang akan buat dia suatu hari kembali.
membiarkannya pergi begitu saja jadi mimpi buruk baginya nanti.
percayalah.
jangan lupa, di luar sana dingin.
tak ada anak kecil yang nyaman dengan itu.
ketika sedang dingin-dinginnya,
dan hujan pula,
dia cuma bisa menangis-nangis.
dan memegang perutnya yang lapar.
sayangilah anakmu.
jangan biarkan dia pergi begitu saja dari rumah.
tolong, jangan.