begitu juga pikiran-pemikiran.
atau ide-ide yang dulu biasa kini jadi gila.
atau pula sebaliknya.
entah karena belajar.
entah karena beraja.
dulu, di taman kota, di depan sekolah sy.
--saat celana sy masih merah menyala: baru dibelikan ibunda.
ada seorang pesulap jalanan.
setidaknya, sulaplah yang ditampilkannya.
itupun menurut sy dan beberapa kawan sy.
dia berjubah.
menghibur penonton.
yang melempar uang dan menyerakkan tepuk tangan.
atau menyorakkan suara-suara kegirangan.
sy pun begitu.
beberapa kawan sy pun begitu.
kami tepuk tangan.
kagum.
standing applause.
(memang karena itu di taman. tak ada tempat duduk penonton.)
ada sebuah kejadian yang saat itu terasa normal: sulap.
si pesulap, dengan pakaiannya seperti penyihir.
mukanya tak tersenyum.
tiba-tiba melempar jubahnya.
dan jubahnya itu terbang di langit.
seperti burung yang amat besar.
memutari langit di atas kepala kami.
semua mata melihat jubah gelapnya yang terbang itu.
sy melihatnya.
beberapa kawan sy itu juga.
dia, si pesulap itu, cuma menggerakkan tangannya.
dan arah terbang jubah itu sama dengan gerak tangannya.
sy waktu itu tak henti bertepuk tangan.
kegirangan.
kagum.
setelah berjarak waktu, sy tak bisa begitu.
sekarang sy tak kegirangan.
sy tak kagum.
sy hanya merasa heran.
bagaimana dia melakukan itu.
selalu itu yang sy tanyakan.
pernah sy ke sebuah tempat.
di sana ada seorang pawang burung layang-layang yang mengendalikan ratusan burung itu melayang-layang di langit.
itu dilakukannya untuk merayakan hari kemerdekaan.
dan itu tak seheran sy melihat si pesulap dengan jubahnya.
sempat terpikir,
jangan-jangan waktu itu si pesulap memakai rajawali.
atau garuda.
tapi rajawali dan garuda bukanlah pakaian.
sungguh,
sampai sekarang sy masih heran.
sy tak bisa lagi bisa memikirkan cara itu.
lalu sy keluar dari sarang.
menembus dinding.
dan ke rumah murid sy itu:
ingin bertanya.
burung mana gurunya.