22.4.13

Sebelum hujan datang menderas, ada dua anak hujan yang keluar pagar lebih awal. Meka bertaruh. Dari langit, siapa yang lebih dulu sampai ke bumi. Ibu mereka berkata, janganlah kalian turun lebih dulu. Tunggulah kami yang besar-besar. Tapi, takdirnya anak melawan kata orang tua. Keluar dari kumpulan mereka, mereka melompat jatuh dari angkasa. Berpacu. Dahulu-mendahului sampai ke tanah. Tertawa-tawa.

Tapi ajal memang dituliskan untuk datang. Matahari, si penerang, berpatroli menantang. Dan panas bumi, membenteng dengan garang. Mereka lenyap seketika. Menjadi uap. Tawa mereka tak lagi berkumandang.

Kembalilah mereka ke langit. Saat bertemu ibu, dia tak kenal lagi sosok uap yang datang. Kemudian mereka mati. Lalu lahir kembali. Dengan ibu yang berbeda. Mereka pun tak kenal satu sama lain pula. Dapat pula saudara yang baru. Dengan saudaranya itu, dia ajaklah turun ke bumi. Hai, kau tak tahu terima kasih. Apa memang takdirmu menjadi gerimis? Dan anak-anak nakal hujan turun berombongan. Dan kepala manusia tak perlu berpayung menanti kedatangan mereka. Beberapa kali ketika, mereka yang belum masanya, menyesal tak berhingga. Dengan tanah, dengan panasnya udara, tak sengaja mereka memberi pertanda, dan membukakan jalan bagi yang tua-tua.