Tadi, di salah satu penjuru bumi, ada anak manusia bertengkar.
Yang berperkara kaki dan tangan.
Tapi karena yang tangan merasa lebih tinggi, bukan main menarik pertengkarannya.
Yang bawah sedang membahas benar-salah.
Yang atas membahas atas bawah.
Kalau dilihat cermat-cermat, masalahnya tidak yang terlalu sukar.
Yang atas lebih tinggi dari yang bawah terlihat dari rambutnya yang sudah mulai putih.
Sudah, itu saja.
Yang dibangga-banggakannya ya rambut putih-putihnya itu: perlambang senior, perlambang telah makan asam-garam, dan perlambang pernah muda.
Sedangkan yang bawah?
Manalah susah menentukan tokoh protagonis dari sebuah cerita sederhana singkat lagi gamblang.
Dialah yang disisihkan dari tawa-tawa cemooh orang.
Dialah yang selamat dari umpatan orang-orang yang melihat.
Dan dia lebih santai--kendati tak ada yang santai dalam sebuah pertengkaran.
Dia lebih lunak.
Sebabnya sederhana: dia tak salah.
Sedangkan yang atas, si tua tadi, dia salah, dan takut pula kalah.
Maka dia lancarkanlah serangan pembelaan.
Dia lesakkan alasan-alasan.
Dan semua itu berbuah tertawaan orang.
Senjata pamungkasnya: aku pernah muda.
Dan tentu saja yang bawah, yang muda itu, tak akan kuat melawan umur, karena dia belum pernah tua.
Hahaha, senjata yang satu itu memang menjijikkan.
Akhirnya, kalahlah yang muda, kalah beserta kebawahan dan kemudaannya.
Jika sampai masa tuamu, tetaplah pintar.
Dan sabar.
Karena menjadi bodoh dan sempit akal itu adalah kutukan yang sangat kasihan.
Kip rokin.