20.12.13

Sy tadi lihat iring-iringan mobil presiden.
Ramai sekali. Pengawalnya banyak. Jalanan macet.
Di mata sy kejadian itu terbaca dua.

Pertama. Dia membantah perkataannya, soal menghilangkan jurang pemisah antara ini dan itu. Dia ingin berekslusif ria.

Kedua. Negara kita tak aman. Banyak betul pengawalnya.

Dulu ketika kelas kedua sekolah menengah, presiden datang ke kota sy. Lalu kunjungan selanjutnya ketika sy sekolah menengah yang kedua. Kami murid disuruh membuat bendera-bendera kecil oleh guru dan kepala sekolah. Ukurannya 8 x 10 sentimeter  tiangnya dari lidi. Tiap murid bikin dua. Satu tangan kanan, satu tangan kiri. Untuk dilambai-lambaikan. Dikibar-kibarkan.

Hari H, dari pukul 9 murid disuruh berdiri di pinggir jalan dengan memegang bendera-bendera kecil tadi. Segala murid. Dari tingkat dasar, hingga tingkat atas.

Lalu murid menunggu di pinggir jalan. Matahari panas. Baju murid basah. Keringat penyebabnya.

Jam 11 presiden lewat. Guru-guru menyuruh murid mengibar-ngibarkan bendera-bendera kecil itu.

Jam 11 presiden lewat.  Dengan mobilnya yang bagus. Sejuk ber-AC. Melewati semua murid dengan melaju kencang.

Jam 11 presiden lewat. Tanpa buka kaca.

Kami murid harus terus mengibarkan bendera. Guru terus menyuruh. Siapa presiden kami tak lihat. Kami murid cuma takut guru.

Hampir jam 12.
Matahari makin panas.
Seragam kami makin basah.
Beberapa hidung anak murid keluar darah.

Kota kami kota bahagia.
Di sana dilewati garis katulistiwa.