Dulu sekali.
Sy punya kawan sekelas bernama Maria.
Kelas lima dan enam kami bersama.
Parasnya baik.
Badannya sudah berbentuk orang dewasa.
Dia bodoh.
Bayangkan saja, dengan kakak sy, yang terpaut umur empat tahun dengan sy, dia juga pernah sekelas.
Dan itu pun kelas yang sudah diulangnya.
Sy punya kawan sekelas bernama Maria.
Kelas lima dan enam kami bersama.
Parasnya baik.
Badannya sudah berbentuk orang dewasa.
Dia bodoh.
Bayangkan saja, dengan kakak sy, yang terpaut umur empat tahun dengan sy, dia juga pernah sekelas.
Dan itu pun kelas yang sudah diulangnya.
Singkat cerita, dia sakit.
Dia sakit kalau akan ada ulangan harian.
(Jadi guru biasanya tidak bilang pada hari sebelumnya. Khusus, karena dia.)
Dia sakit kalau akan ada ulangan harian.
(Jadi guru biasanya tidak bilang pada hari sebelumnya. Khusus, karena dia.)
Karena menjadi ketua kelas, sy lah yang terima suratnya.
Surat itu dikasih teman lain yang adalah tetangga Maria.
Surat itu dikasih teman lain yang adalah tetangga Maria.
"Ibu, hari ini sy tidak bisa masuk karena sakti."
Sakti?
Ya.
Begitu terus dia sepanjang dua tahun kami sekelas bersama itu.
Begitu terus dia sepanjang dua tahun kami sekelas bersama itu.
Dia agaknya menyalin suratnya yang lama.
Tanpa tahu ada kesalahan di sana.
Dan tulisan tangannya tak ubah coretan seorang anak belajar menulis mengeja.
Tanpa tahu ada kesalahan di sana.
Dan tulisan tangannya tak ubah coretan seorang anak belajar menulis mengeja.
Tapi, entah kenapa, sy selalu mengubahnya.
Sakti.
Sakit.
Sebenarnya tak apa bagi sy jika dia ditertawakan guru dan murid lain tentang kesaktiaannya itu.
Tapi, entah kenapa, sy selalu mengubahnya.
Sakti.
Sakit.
Sebenarnya tak apa bagi sy jika dia ditertawakan guru dan murid lain tentang kesaktiaannya itu.
Tapi, entah kenapa, sy selalu mengubahnya.
Kini, sy bertanya-tanya lagi.
Di mana dia sekarang.
Seingat sy, dia dimasukkan bapaknya ke SMP.
Tapi tak jelas kelanjutannya.
Tak ada kabar.
Di mana dia sekarang.
Seingat sy, dia dimasukkan bapaknya ke SMP.
Tapi tak jelas kelanjutannya.
Tak ada kabar.
Sy mencari-cari, tak bertemu.
Dia hilang begitu saja.
Apa dia bisa menghilang seperti jin?
Apa dia sedang bersama kita?
Apa jangan-jangan dia memang sakti?
Dan sy telah berpuluh-puluh kali mengubah kesaktiannya dengan kesakitannya?
Itu dua hal yang sangat bertentangan.
Dia hilang begitu saja.
Apa dia bisa menghilang seperti jin?
Apa dia sedang bersama kita?
Apa jangan-jangan dia memang sakti?
Dan sy telah berpuluh-puluh kali mengubah kesaktiannya dengan kesakitannya?
Itu dua hal yang sangat bertentangan.
Maria,
di mana pun kamu berada, tetaplah sehat dan bahagia.
Jikalau sy bertindak salah atas kesaktianmu di surat izin sakit itu, sy minta maaf.
Tak ada maksud sy berbuat hal buruk.
di mana pun kamu berada, tetaplah sehat dan bahagia.
Jikalau sy bertindak salah atas kesaktianmu di surat izin sakit itu, sy minta maaf.
Tak ada maksud sy berbuat hal buruk.
Selamat malam.
(Bila sampai kamu, Maria, membaca tulisan ini, sy memang sengaja membuat judul sedemikian rupa. Hubungilah sy jika kamu ingin sy minta maaf sekali lagi.)