21.1.14

pernah suatu kala, anak seorang saudagar kaya dan anak seorang tabib termahsyur datang kepadami.
mereka berdua sama-sama bertanya, "apa guna engkau belajar sastra?" (dengan nada meledek.)

begini kami menjawabnya,

dahulu kala, kami tak pernah membeda-medakan tinggi pekerjaan dan kegemaran orang bertanding dan bertandang. segala apa yang mereka lakukan, kami hormati. dan tak ada yang kami cemoohkan. pada masa itu kami senang. dengan orang tak kenal pun kami berkasih hati. pertama kali bertatap muka pun kami tawarkan dia singgah makan ke dalam gudang.

lagi pula, pada masa itu, memang kami ini saling mengerti. kami sibuk dengan hal yang memang kami sibukkan. jadi tak usah mencampuri atau merepotkan diri dengan hal-hal yang percuma. buang-buang waktu. (pada kesempatan sama, orang amerika--benjamin franklin--bilang, time is money.)

bahkan, kalau ada yang kurang ajar, dengan menyombongkan pekerjaan atau kegemarannya, yang punya hak untuk itu hanyalah yang belajar bahasa dan belajar sastra. bukan saudagar. bukan pula tabib. alasannya, kebangsawanan.

cuma bangsawan yang punya waktu (uang) banyak sehingga sempat membaca yang indah-indah dan berpendidikan (berpikiran). dan dengan jeda yang panjang tanpa gangguan. saudagar tentu tak lepas dari angka-angka dan menjaga barang jajaan. tabib takkan lepas tangannya dari obat dan mengobati. maka, tak jarang saudagar dan tabib juga membaca-baca buku sastra. biar sedikit-sedikit belajar bahasa. biar sedikit-sedikit belajar sastra. biar sedikit-sedikit terlihat seperti bangsawan.

tapi, zaman kini berbeda. ada istilah "orang kaya baru". ini seperti 'sok tahu'-nya orang baru mulai baca buku. semoga belum pernah ketemu. ngilu.

....


ternyata dua anak tadi sudah pergi. sedari tadi. tak sempat mendengar jawabanmi. mereka cuma meledek saja.

lalu, kami kembali lagi ke bacaan yang ada di depan mata. dan kembali hidup.