3.7.14

Suatu hari, sy menghampiri ibu untuk menyampaikan kata pamit.
Sy bilang kepadanya, sy mau pergi. Pergi ke mana, sy tak tahu.
Karena tahu sy tidak sedang meminta izin, ibu hanya bisa mengangguk saat mendengar tutur pamit sy.
Kembalilah pulang, kata ibu, di ujung percakapan terakhir kami.
Lalu sy pergi. Dengan hati dan hati-hati.

Sy ingin ke suatu tempat yang tidak ada kasih di sana. 
Sy sungguh ingin ke sana.
Tak banyak--sepertinya--yang memilih ingin pergi ke tempat semacam itu.

Lalu sy mulai berjalan. Gunung. Lautan. Benua. Benua. Sungai. Danau. Kering. Bersalju. Pesek. Mancung. Hitam. Putih.

Semua itu ada dalam perjalanan sy. Dan tak satu pun dari tempat itu yang ingin sy kunjungi.

Sampai pada suatu ketika sy dihampiri oleh seorang pendeta muda. Dia menanyakan apa sebenarnya yang sy cari. Bagi kami--katanya--kau tak lebih dari menyakiti diri. 

Lalu sy paparkan apa tujuan sy, dan yang seperti apa yang sy cari. Dia tertawa. Percuma, katanya. Kasih itu kau bawa bersamamu. Dan akan selalu ikut. Pulanglah. Tak ada tempat seperti itu.

Sungguhlah perkataan dia lama di dalam kepala sy. Apa gerangan maksudnya. 

Kasih ada dalam diri. Dan akan ikut ke mana pun diri pergi.

Lalu sy terpikir untuk bunuh diri. Biar diri mati, dan sy sampai pada tujuan yang sy cari.

Lalu sy pergi ke bawah bukit rendah. Di sana ada sebidang tanah yang cukup lapang. Kemudian sy mulai menggali lubang. Masuk kedalamnya. Kemudian membunuh diri di sana.

Sy kemudian mati. Diri sy mati. Lalu sy menguburkan diri sy. Dan tak lupa menancapkan papan kayu bertulisan sebagai penanda. Di sanalah sy tinggalkan diri. Di sanalah sy tanggalkan kasih.

Selamat malam.
Semoga kita semua baik-baik saja.